NIKOBATIN
Sebuah rumah tempat buku-buku berkumpul, berjejer, dan bergandengan dengan rapi. Dia sudah berada di sana sejak lama. Jadi tempat tinggal yang nyaman baginya, dan juga surga bagi para mahasiswa yang doyan baca. Kesehariannya pun sederhana, tak menonjolkan kaya ataupun tampan rupawan. Suka membaca apalagi menulis, penuh canda dan ceria. Dia mahasiswa FMIPA, yang langka.
Ku pandang dari kejauhan, dia sudah melambaikan tangan. Perwakannya yang selalu ceria membuatnya benar-benar dapat dinobatkan sebagai orang langka. Tak ada alasan apapun juga, setiap kami berkumpul selalu saja ada sebuah daya tarik tersendiri terhadap seorang perempuan yang memandang kami.
Seorang perempuan memang terlahir dengan kelembutan hatinya, dan kalau perempuan itu galak sudah dipastikan dia sangat membutuhkan kasih sayang. Dan pada akhirnya getar terasa di hati Fenan tatkala dia bertemu dengan Hana. Fenan masih melamun tentang apa yang terjadi Minggu pagi di Taman Sutera.
_-_-_-_-_-_
Waktu itu kami jogging mengelilingi lapangan Rektorat, terhitung sudah tujuh kali putaran kami lakukan. Keringat sudah merembes di baju kami, dan mulai membanjiri badan kami dengan bau harum bak minyak kasturi. Sempat melihat bangku yang kosong di sekitar taman, tanpa babibu kami langsung duduk dengan santainya. Beginilah rupanya, banyak orang-orang yang menghabiskan waktu libur di pagi hari dengan kegiatan yang positif.
Fenan mulai berkhutbah tentang dirinya yang ingin mengubah tatanan kampus ini, terbentuknya tatanan pada mahasiswa tetntang simbiosis mutualismenya.
“Aku, sungguh muak dengan mereka.“ Mereka kan dulunya juga menjadi mahasiswa, sekarang sudah sukses karena nyatanya tidak jadi pengangguran. Apakah sudah lupa pada lemari, yang dulu ditempatkannya buku-buku semesta hingga sudah melebihi Sarjana?” aku sudah biasa merasakan atmosfir seperti ini, kata demi kata yang terlontar dari mulut Fenan juga yang ku rasakan saat ini.
“Mukegile Nan, masa muda yang sulit dan ketika tua malah mempersulit.” jawabku dengan santainya sambil menghembuskan asap putih yang keluar dari mulutku.
“Kita bergerak terang-terangan jelas kalah, di zaman edan ini kudu main halus. Ah, jadi malah teringat Wiji Thukul. Kata-katanya yang tak pernah binasa, namun dia hilang karena ninja yang linglung di negeri ini.” ku lihat Fenan mulai meneteskan air di matanya.
Dan aku juga, setiap ada suatu kata khusus terucap, bulu-bulu kecilku selalu merinding. Entah perasaanku selalu begini.
“Ku rasakan juga, banyak mahasiswa yang terfokus pada rumus-rumus yang sudah jelas terbukti, tapi masih saja dibuktikan. Dluguk. Apakah mereka pernah membuktikan tentang biaya menjadi mahasiswa di sisni?” sedikit merenung, aku berfikir. Lalu aku jawab
“Tidak,” sudah terlihat memang. “Kita berdoa ya Nan,” kataku seraya menutup mata sambil
berdoa dalam hati. “Baiklah,” sambung Fenan.
_-_-_-_-_-_
Waktu hampir menunjukkan pukul sepuluh pagi, tapi langit masih berbaik hati dengan menyembunyikan keagungan sang matahari. Orang-orang pun juga masih betah berlamalama di dekat taman. Sekelilingnya memang banyak pohon, tapi tak selebat dulu. Jelas sekarang rimbanya telah hilang.
Sejauh mata memandang, ternyata ada seorang perempuan yang memandangi kami berdua. Apa yang kami lakukan, terlihat sedikit nyeleneh. Apalagi tadi Fenan, sesekali mengeluarkan suara kebun binatang. Alhasil, sang perempuan itu langsung reflek memalingkan wajahnya.
“Nan Fenan, lihatlah di sana. Dari tiga perempuan yang duduk, baju merahlah yang sedari tadi melihati kita,” secepat kilat Fenan mencoba untuk melihat perempuan tadi.
“Tuh kita bejo lagi, teman-temannya sudah menghilang. Tinggal dia yang duduk sendirian, yuk kesana,” ku ajak Fenan mendekati sang perempuan itu.
Atur strategi, pertemuan pertama adalah hal yang wajib tak dilupakan. Aku berada di belakang sang perempuan itu, sedangkan Fenan posisinya berada di sampingnya. Perempuan itu menghadap ke depan, jelas dia tak melihat ke belakang apalagi ke samping.
Aku menepuk bahunya dengan pelan, sontak sang perempuan tadi kaget dan reflek langsung menengok ke belakang. “Hah..” teriak perempuan itu. Lalu Fenan yang tadi lewat samping, sekarang sudah berada di depan wanita itu. “Permisi mbak...” ucap Fenan.
Sejurus kemudian, perempuan itu nampak kaget. Ia pun langsung menutup wajahnya. Kami pun tertawa bahagia.
“Maaf, membuat kaget mbak. Habisnya ku perhatikan dari tadi kok selalu memandang kami dari jauh. Tolong dibuka dong wajahnya, biar kami bisa tahu,” ucapku yang sambil menahan tawa.
Akhirnya perempuan itu membuka tangan yang menutupi wajahnya. Deg, akupun takjub melihat parasnya. Tadi saat kaget wajahnya terlihat lucu, sekarang pipinya memerah dengan senyum yang mengembang. Subhanallah, ciptaan-Mu sungguh indah, Gusti.
“Mbak namanya siapa?” tanyaku kepadanya. Tanpa sungkan dia pun menjawabnya dengan suara yang lembut.
“Hana Syakurani Rahmawati, panggil saja Hana,” nama yang unik, seperti orangnya. Sedari tadi Fenan cuma diam saja, apa yang terjadi.
Tiba-tiba Fenan berbisik “Ayo Man kita pergi, aku sudah tak kuat,” ini ternyata kode dari Fenan. Aku pun mengerti maksudnya.
Lalu ide liarku pun sudah muncul, ada sebuah kayu di depanku. Ku ambil saja, lalu diam-diam ku lemparkan kayu itu kepada Hana. Dia pun kaget, kayu kecil yang ku lempar tadi disangka seekor ular.
Kamipun secepat kilat berlari meninggalkannya sambil tertawa. Hahahaha....
_-_-_-_-_-_
Fenan pun mulai bercerita kenapa dia tadi melamun. Ternyata pada Minggu pagi itu,dia merasa ada sesuatu di tubuhnya. Dia tidak kuat menahan getar yang terasa di hatinya. Sangat mendebarkan dan itu sangat luarbiasa menurutnya. Hanya ada dua perempuan yang bisa membuat Fenan seperti itu, Ibunya dan Hana.
Fenan memang seorang yang langka, jarang sekali aku melihat dia seperti itu. Biasanya dia selalu bersikap sewajarnya. Itukah yang dinamakan “Love at first sight”?
Biarkan hati yang menjawabnya.
Daun, 30 April 2017
Cerita ini belum sepenuhnya sempurna, dan mungkin ini akan menjadi spoiler untuk cerita bersambung lagi.
Share This :
0 komentar